76 Tahun Kabupaten Kampar: Merawat Rumah Kita dengan Kemandirian Oleh: Zamhur, ST, MM

76 Tahun Kabupaten Kampar: Merawat Rumah Kita dengan Kemandirian
Oleh: Zamhur, ST, MM
(Kepala Badan Pendapatan Daerah Kabupaten Kampar)

Memasuki usia ke-76 tahun, Kabupaten Kampar telah melewati berbagai fase perjalanan panjang pembangunan. Usia ini bukan lagi masa mencari jati diri, melainkan masa memantapkan arah dan memperkuat pijakan menuju kemandirian yang sesungguhnya.

Di tengah semarak peringatan hari jadi yang ke-76, terselip satu pertanyaan mendasar: sudah sejauh mana kita merawat dan menguatkan daerah yang kita cintai ini? Bagi saya, Kampar bukan sekadar entitas administratif di Provinsi Riau. Kampar adalah rumah bersama, tempat tumbuh dan bernaung ratusan ribu masyarakat dengan harapan akan masa depan yang lebih baik.

Sebagai Kepala Badan Pendapatan Daerah, saya memandang kemandirian fiskal sebagai fondasi utama kekuatan sebuah daerah. Selama ini, dukungan dana transfer dari pemerintah pusat memang menjadi bagian penting dalam struktur keuangan daerah. Namun, sebuah daerah yang tangguh adalah daerah yang mampu mengoptimalkan potensi sendiri melalui Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Pajak dan retribusi daerah sejatinya bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan wujud partisipasi aktif masyarakat dalam pembangunan. Setiap pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), pajak restoran, pajak hotel, hingga pajak kendaraan bermotor adalah kontribusi nyata untuk membiayai pembangunan jalan, pendidikan, layanan kesehatan, serta infrastruktur publik lainnya.

Inilah semangat gotong royong dalam wajah modern—di mana partisipasi warga menjadi energi penggerak pembangunan.

Tentu, membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya pajak tidak bisa dilepaskan dari kepercayaan masyarakat. Oleh sebab itu, Bapenda Kabupaten Kampar terus melakukan pembenahan, terutama melalui digitalisasi layanan dan penguatan transparansi pengelolaan keuangan daerah. Digitalisasi bukan sekadar mengikuti perkembangan zaman, tetapi memastikan kemudahan, akuntabilitas, dan efisiensi pelayanan kepada masyarakat.

Kepercayaan publik adalah modal utama. Setiap rupiah yang dibayarkan harus kembali dalam bentuk manfaat nyata yang dapat dirasakan bersama.

Sebagai daerah yang dikenal dengan julukan Negeri Serambi Mekkah, nilai-nilai kemandirian dan tanggung jawab menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas kita. Prinsip bahwa “tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah” menjadi refleksi bahwa kemandirian fiskal adalah cita-cita bersama demi martabat daerah di masa depan.

Di momentum 76 tahun ini, saya mengajak seluruh elemen masyarakat—pengusaha, petani, pedagang, aparatur, dan generasi muda—untuk terus memperkuat kolaborasi membangun Kampar. Setiap kontribusi, sekecil apa pun, adalah batu bata yang menyusun kokohnya bangunan daerah ini.

Mari kita jadikan usia ke-76 sebagai titik tolak memperkuat komitmen menuju Kampar yang lebih mandiri, berdaya saing, dan berkelanjutan. Jangan biarkan usia hanya menjadi angka, tetapi jadikan ia simbol kematangan dan keteguhan langkah.

Dirgahayu Kabupaten Kampar ke-76.
Rumah kita, tanggung jawab kita, dan kebanggaan kita bersama.