Kampar  

Kampanye di Samping Kampus UP, Warga Sebut Visi Misi Yusri-Rinto Masuk Akal

Wawasannusantara.com, Bangkinang — Visi misi dan janji politik yang disampaikan Calon Bupati/Wakil Bupato Kampar Drs H Yusri, MSi-H Rinto Pramono, SPi, MM dinilai masuk akal dan mudah diwujudkan ketika menang dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) Kampar tanggal 27 November mendatang.

Hal tersebut diungkapkan sejumlah masyarakat yang hadir pada kegiatan kampanye tersebut. Menurut H Yusri, tokoh masyarakat sekaligus selaku tuan rumah pelaksana kampanye Yusri-Rinto di samping kampus Universitas Pahlawan (UP), Desa Ridan Permai, Kecamatan Bangkinang Kota mengaku bahwa Calon Bupati Nomor Urut 2 H Yusri adalah sosok yang paling tepat untuk memimpin Kampar lima tahun ke depan.

Dari segi pengalaman mengelola pemerintahan dan pergaulan dengan masyarakat dan berbagai pihak, Datuk Yusri lebih unggul.

Sementara itu, dalam kampanye dialogis di hadapan peserta kampanye yang didominasi kaum ibu dan kumpulan anak muda yang menamakan diri Garda (Gerakan Muda) Datuk Yusri, mantan Sekretaris Daerah (Sekda) Kampar itu mengatakan bahwa ia telah menjadi PNS selama 32 tahun.

Sepanjang kariernya ia tidak pernah dinonjobkan. Ia memegang jabatan dari menjadi lurah hingga Sekda Kampar. Yusri meniti karier birokratnya di dua kabupaten, Rokan Hulu dan Kampar.

Ia memutuskan maju menjadi calon bupati karena melihat kondisi Kampar yang harus diselamatkan. Dikatakan, saat ini anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) Kampar hanya Rp 2,7 triliun.

Menurutnya, jumlah itu sangat kurang karena banyak sekali yang harus dibenahi.

Yusri juga melihat sejumlah persoalan. Diantaranya, banyak sekali masjid di Kabupaten Kampar yang tak fungsional. Dari sekitar 600 masjid, hanya 400 yang fungsional.

“Imam tidak ada, listrik tidak ada, tidak terbayar, air tidak ada. Kita masih punya hutan. Saya mimpi putihkan hutan itu, tanam tanaman yang hasilnya untuk umat. Dengan demikian ulama bisa kita perhatikan, anak-anak bisa kita sekolahkan luar negeri. Rencana saya, kita kasih 2.000 hektare khusus buat ulama dan masyarakat,” terang Yusri.

Ketua Lembaga Adat Kampar (LAK) ini menambahkan, tagline “Kampar Maju dan Sejahtera” bukan tagline yang sembarangan. Yusri mengaku mendapatkan tagline ini dari lubuk hatinya yang paling dalam.

Jika diamanahkan menjadi bupati, Yusri juga ingin adat budaya terjaga, terserapnya lapangan kerja, membina UMKM, memajukan sektor perikanan, peternakan dan pertanian serta perbaikan berbagai infrastruktur.

“Ingin juga kita masyarakat menikmati subsidi pupuk dan pakan ikan,” ulasnya.,

Semua harapan itu bisa diwujudkan apabila Kampar memiliki uang (anggaran) yang banyak.

“Kalau kita bangun Kampar kalau tidak dapat tiga triliun lebih, rungkad,” bebernya.

Yusri berharap, dengan maju di Partai Gerindra, Kampar bisa mendapatkan anggaran yang banyak. Minimal ada tambahan anggaran dari pusat hingga Rp 1 triliun setiap tahun.

Menurut Yusri, anggaran untuk membangun Kabupaten Kampar dan mengatasi seluruh persoalan di Kampar harus ditingkatkan.

“Yang paling terasa kita di wilayah Limo Koto ini sampai XIII Koto Kampar. Tapung tak ada masalah. Orang transmigrasi yang dulu punya dua hektare sekarang menjadi empat hektare lebih,” ulasnya.

Ketika uang berputar di Kampar minim maka akan berpengaruh kepada jual beli di pasar.

Yusri menceritakan, saat dia menjadi Sekda, kondisi daya beli masyarakat di pasar surplus.

“Karena setiap Lebaran, dua minggu sebelum Lebaran kita kucurkan dana sekitar 400 miliar, itu duit cair, tidak ada tunda bayar. Semua dana habis,” bebernya.

Yusri juga berkeinginan Islamic Centre yang ada di Bangkinang saat In menjadi Islamic Centre di Sumatera. Ketika ia menjadi Kepala Dinas PUPR di Kabupaten Rokan Hulu, ia ikut berperan membangun Islamic Center Rohul. Ribuan orang datang berkunjung.

Melihat kondisi Kampar saat ini, daerah yang dilintasi jalan tol, maka akan lebih gampang memacu pertumbuhan ekonomi di Kampar dan posisi Islamic Centre Kampar menjadi semakin strategis.

Yusri juga ingin Taman Kota diperbaiki menjadi taman yang lebih nyaman, indah dan bersih.

Begitu juga di kawasan Water Front City.

“Mimpi lainnya saya ingin selesaikan Water Front City. Ada enam persil lagi yang belum selesai. Kemarin sudah dibayar ganti ruginya sampai sepuluh miliar,” beber Yusri.

Dalam kesempatan ini Yusri kembali menjelaskan tentang adanya pertanyaan masyarakat yang muncul mengenai dirinya yang saat menjadi Sekda tidak bisa membagi-bagi proyek.

“Datuk kemarin ke mana? Datuk ini kemarin (saat jadi Sekda) hanya sebagai tukang masak. Ngapa Datuk tak bagi proyek? Kalau saya ikut proyek enam tahun itu (selama menjadi Sekda) mungkin tidak bisa saya mencalonkan diri menjadi bupati sekarang,” ungkapnya.***